Ayam pun mulai berkokok untuk membangunkan orang yang disekitarnya, tapi tidak untukku. Aku lebih dulu bangun karena tadi malam aku sempat tidur setelah makan malam. Aku duduk menghadap sisi jendela dimana aku bisa langsung melihat taman yang dibuat ayah. Aku teringat tentang Rafael Lim dia manis, baik, dan ah.. sudahlah aku lelah memikirkan ini. 'jam berapa ini?'pikirk sambil melihat jam tangan.'aihh lama betul, menunggu jam setengah enam itu."kataku sambil berjalan kepintu. 'apakah kau tau Rafa betapa aku sangat menyukaimu, sangat menunggu hari itu tiba. Hari dimana kita dipertemukan.'kataku dalam hati. Aku menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk ibu.
Jam menunjukkan angka enam pagi dan waktu ku untuk pergi bekerja. Terkadang aku suka iri jika seorang anak kecil diantar oleh ayahnya menuku sekolah, bisa mengobrol dijalan, atau bercanda. Jujur aku sangat kehilangan ayah saat aku masih kecil dan menjadi tulang punggung keluarga saat dewasa membuatku menyadari bahwa tak selamanya hidup itu kekal, tapi aku sangat bersyukur memiliki ibbu yang tabah dan sabar. Jika aku pasti sudah menangis."jangan bengong."kata pria itu."kyaaa!! Kau kenapa bisa disini?"kataku."kebetulan lewat saja mau bareng."katanya. Aku hanya bisa tersenyum dengan arti menerima tawarannya siapa yang tidak mau diantar cowok ganteng menggunakan mobil.
"maaf ya mengagetkanmu tadi."katanya. "tidak apa-apa kok. Ngomong-ngomong kamu kok tau kalau aku lewat situ."kataku. "tadi malam ketika aku menurunkanmu di depan rumah itu aku masih mengawasimu takut jika kau kenapa-kenapa."katanya. "kau stalker, tapi terima kasih eee.. Siapa namamu."kataku. "namaku Rafael Lim."katanya sambil tersenyum. Sungguh aku sangat terkejut benarkah dia Rafael Lim, benarkah itu. "kenapa wajah mu berubah?"kata rafael. "tidak, tidak apa-apa aku baik-baik saja."kataku. Pikiranku melayang di lalu lintas ibukota Jakarta tak tahu arah dan tujuan.
"sudah sampai kau baik-baik sajakan?"kata Rafael. "iya aku baik-baik saja,"kataku. Aku menuju ke depan pintu masuk kantor entah mengapa langkah kakiku tersa berat. "aku akan membantumu."kata Rafael sambil membopong tubuhku."tidak perlu aku bisa."kataku sambil berusaha menjauhkan dia dariku. "sudah lagi pula kita tak lama berjumpa."katanya. Aku berjalan bersama Rafael menuju pintu masuk kantor dan Rafael mendudukanku di ruang tunggu. "aku akan panggil Rina untuk membopong ke meja kantormu."katanya sambil berusaha menelpon Rina. Benarkah itu dia Tuhan? Benarkah pria yang berdiri didepan mataku ini dia. "Fani!!"kata Rina. "dia sepertinya agak kurang sehat jadi tolong antarkan ke mejanya yah."kata Rafael."iya, ayo Fani."kata Rina sambil berusaha membopongku. "tunggu!! Terima kasih Rafa,terima kasih atas segalanya."kataku. Aku masih bisa melihat Rafael dari pot kaca sebelum benar-benar pergi. "kamu ini kenapa kalau ngga enak badan mendingan ngga usah kerja."kata Rina."maaf deh sudah ngerepotin kamu Rina."kataku lesu."jangan lesu gitu dong, memang ada apa sih kok hari ini kamu beda banget padahal baru dua hari."kata Rina. 'benar ini baru dua hari masih ada hari seterusnya untuk menyelidiki tentang pria itu' pkirku.
prolog : Pria yang mengantar Fani pulang adalah Rafael Lim orang yang sangat disukai Fani akankah Fani jatuh cinta lagi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar